Rumah Ume, Pondok Kebun yang Bukan Sekedar Pondok

rumah-ume-kebun-suak-gual-selat-nasikDisepanjang waktu dalam kegiatan berkebun para petani disaat mengurus dan merawat kebunnya seperti lada, karet, cabai dan lain-lain, mereka membuat bangunan berupa sebuah pondok untuk beristirahat melepas penat setelah beraktifitas di ume (kebun/huma/ladang).

Pondok kayu yang berpanggung dengan lantai papan, dinding lelak (kulit kayu dari pohon besar) dan beratapkan daun rumbia.Terbuat dari bahan-bahan dari alam, rumah ume mendapatkan suasana sejuk, adem yang menghilangkan lelah saat beristirahat didalam ruma ume. Ditambah pula dengan rindangnya pohon di kiri-kanan ruma ume yang dipenuhi riuh kicauan burung ditingkahi kelakar para kera dan monyet. Setelah rehat minum kopi atau teh, pun makan siang di tengah hari, para pekebun kemudian melanjutkan aktifitas berkebun kembali sampai menjelang waktu ashar atau pun magrib.

Dalam perjalanan menuju Tanjung Lancor–tempat Mercusuar ‘lampu Lancor’ peninggalan Belanja berada–dengan jalan setapak seadanya dapat ditemukan beberapa ruma ume para petani setempat yang kebunnya bersebelahan.

Rumah Ume ini bukan sekedar pondok kebun biasa tempat melepas lelah. Dengan bangunan yang dibuat lengkap sama dengan bangunan rumah di kampung, bangunan ini juga berfungsi sebagai gudang penyimpanan hasil panen seperti lada dan karet. Bahkan, sebelum ‘rumah gedong’ yang berbahan batu dan semen populer di Pulau Mendanau, rumah kampong dan ruma ume hampir tidak memiliki perbedaan sama sekali. Luas bangunan, perkakas dan perlengkapannya semuanya hampir sama–boleh dikatakan sebagai rumah kedua.

Pun pada musim-musim tertentu–musim durian, dan panen lada–para pekebun akan menginap di ruma ume sampai beberapa hari untuk kemudian pulang membawa hasil panen ke kampung untuk dijual. Seiring meningkatnya teknologi transportasi, saat ini hampir tidak ada lagi warga yang menginap di ruma ume. Adanya sepeda motor membuat jarak kampung dan ume yang dulu terasa begitu jauh ditempuh dengan berjalan kaki/bersepada, kini menjadi begitu dekat dan singkat.

Saat ini, ruma ume tidak lagi dibangun sebesar dan sebagus waktu dulu. Cukup sepetak ukuran 2x3m2 atau 3x4m2, masih dengan model panggung meski jarang dibuat tinggi, atap rumbia dan sudah jarang diberi dinding papan. Toh, tidak akan ‘ditiduri’, hanya untuk sekedar rehat sejenak, atau menaruh perlengkapan yang dibawa dari kampong.
Meski begitu, ruma ume tetap memiliki sesuatu yang menarik jika dapat dibangkitkan kembali sebagai ‘home-stay’ atau ‘camp’ jika Desa Suak Gual mengembangkan wahana pariwisata baru ‘wana-wisata’. Semoga.

Tulisan diperkaya dari artikel asli di akun FB Suak Gual https://www.facebook.com/profile.php?id=100011621086437&fref=ts sumber gambar dari akun yang sama.