Marastaun 2017 Selat Nasik

marastaun-selat-nasik-2017SELAT NASIK, BELITUNG  – Maras Taun merupakan acara adat, pentas seni dan budaya yang harus terus dilaksanakan dan ditingkatkan. Sebagai acara adat dan budaya, Maras Taun menjadi potensi dan aset pariwisata Belitung.
“Kegiatan Maras Taun sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas apa yang telah dijalani. Selain sebagai wujud syukur, Maras Taun juga aset budaya bagi pariwisata yang akan memberikan kontribusi yang besar bagi percepatan pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan tingkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Haryoso Asisten Bidang Pemerintahan Setda Kep Bangka Babel saat membacaka sambutan Gubernur pada acara puncak Maras Taun di Selat Nasik Belitung, Minggu (16/4/17).
Kegiatan Maras Taun ini sudah 13 tahun dilaksanakan. Ia mengatakan banyak filosofi yang terkandung dalam Maras Taun, seperti rasa syukur, gotong royong, dan semangat kekeluargaan. Karena itu, budaya Maras Taun ini harus terus dijaga dan dilestarikan agar tidak punah khususnya oleh pemuda dan pemudi.
“Mudah-mudahan kita terus menjaga dan melestarikan kebudyaan yang ada ini. Pelaksanaan semakin tahun semakin meningkat sehingga tidak hanya dinikmati masyarakat loka saja. Namun mampu menarik wisatawan domestik dan mancanegara untuk berkunjung ke Selat Nasik,” ujar Haryoso.
Pemerintah Provinsi sangat mendukung program pariwisata. Ia mengatakan bahwa langkah menguatkan program pariwisata merupakan sinergitas Pemprov dengan Pemkab/Pemkot. Karena itu unggulan berbasis sektor pariwisata yang didukung oleh sektor lainya secara terpadu dan berkesinambungan dapat memberikan pelayanan optimal kepada wisatawan. Dengan upaya tersebut akan memicu pembangunan sektor pariwisata yang unggul dan kompetitif.
“Program pariwisata ini sinergitas seluruh komponen. Dengan harapan, program pariwisata dapat menggerakan ekonomi masyarakat, mengurangi kemiskinan, dan berdampak posotif bagi kemajuan pembangunan,” harap Haryoso.
Kegiatan Maras Taun 2017 ini telah mulai sejak tanggal 10 April 2017 dengan menampilkan berbagai pentas seni dan kebudayaan, diantaranys Stambul Fajar khas Belitung. Pantauan Babelprov.go.id, acara puncak perayaan Maras Taun juga tarian lesung panjang, lelang ikan hasil lomba mancing, dan menampilkan upacara adat pernikahan masyarakat Selat Nasik tempo dulu.
Selain itu dilakukan pemotongan lepat gede (makanan dari ketan) dengan panjang 1,6 meter dengan berat 170 Kg. Pemotongan lepat tersebut secara bersama-sama dilakukan Bupati Belitung, Asisten I Setda Prov Kep Bangka Belitung, dan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Belitung.
Sebelumnya, Sahani Saleh Bupati Belitung mengatakan kegiatan Maras Taun itu suatu budaya. Budaya masyarakat Belitung mengucapkan rasa syukur atas kegiatan yang dijalaninya selama satu tahun, baik itu dari hasil persawahan, pertanian, maupun nelayan. Selain wujud syukur, kegiatan ini juga ada adat istiadatnya yang harus terus lestari sebagai bentuk budaya yang ada di Belitung.
“Ini budaya khas Belitung, bukan hanya ada di Selat Nasik, tapi diseluruh Belitung. Jadi wajib dijaga dan dilestarikan untuk anak cucu kita,” kata Sahani.
Sahani mengatakan kegiatan Maras Taun menjadi moment acara kepariwisataan di daerah Belitung untuk menarik wisatawan. Oleh sebab itu, pelaksanaannya harus makin baik dan terus dikembangkan.
“Pelaksanaan harus lebih baik dan bisa jadi andalan pariwsiata Belitung. Jadi, kedepan kalau ingin tau budaya Belitung, wisatawan harus kesini karena berbagai budaya dan pentas seni ditampilkan disini,” ujar Sahani.

sumber: Dinas Kominfo Prov. Babel/

Penulis: Surianto/Adi Tri